Beranda | Ulama
Aisyah Binti Thalhah (Wafat 110 H)
Abu Zur’ah ad-Dimasyqi: “Aisyah binti Thalhah adalah seorang wanita mulia. Ia mendapatkan hadits dari Aisyah Ummul Mukminin.”

al-`Ajliy: “Aisyah binti Thalhah seorang wanita Madinah, seorang tabiin dan tsiqah (terpercaya dalam riwayatnya).”

Al-Mazziy: “Tidak ada wanita yang lebih pandai dari murid-murid Aisyah Ummul-mukminin; Amrah binti Abdur-Rahman, Hafshah binti Sirin dan Aisyah binti Thalhah.”


Gadis yang Suci

Inilah seorang tabiin wanita yang mulia, sebagai keturunan keluarga yang berpengaruh di masa rasul. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga Nabi Shalallahu `alaihi wa Sallam di bawah bimbingan Aisyah binti Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu `Anhu memiliki kelebihan dalam hal identitas, etika dan kemuliaan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengaruniainya kecantikan yang memikat, seakan-akan ia adalah salah satu bidadari surga yang ada di dunia ini.

Adalah Abu Hurairah Radhiyallahu `Anhu melihatnya lalu berkata. “Saya tidak melihat seorang pun yang lebih cantik (indah) dari Aisyah binti Thalhah, kecuali Muawiyah saat berada di atas mimbar Rasulullah Shalallahu `alaihi wa Sallam.”

Senada dengan ini adalah pernyataan dari Anas bin Malik Radhiyallahu `Anhu “Sungguh demi Allah, saya tidak pernah melihat seorang yang lebih cantik darimu, kecuali Muawiyah saat berada di atas mimbar Rasulullah Shalallahu `alaihi wa Sallam! maka ia menjawab: “Sungguh demi Allah, sesungguhnya saya lebih baik dari api di mata orang yang menggigil pada malam yang sangat dingin.” Lalu dari keluarga yang manakah tabiin wanita ini berasal?

Sebelum kita masuk dalam kisah hidupnya, biarkan kami memperkenalkan keluarganya yang subur bagi benih-benih Islam.

Ayahandanya adalah Thalhah bin Ubaidillah at-Taimi al-Qurasyi, satu dari sepuluh orang shahabat yang dijanjikan surga, salah seorang shahabat terbaik dan demawan. Rasulullah Shalallahu `alaihi wa Sallam, memberikan sebutan `Thalhah al-Juud (sang dermawan)’ , `Thalhah al-Khair (yang baik)’ dan `Thalhah al-Fayyadh (yang sangat gemar berderma). Pernah suatu ketika beliau memanggilnya ash-Shabih, al-Malih, al-fashih (yang sangat cemerlang, ramah dan fashih berbahasa)’.

Cukup sudah kebanggaan baginya sebagai salah satu dari delapan orang yang terdahulu masuk Islam.

Sedangkan ibunya adalah; Ummu Kultsum binti Abi Bakr at-Taimi al-Qurasyi, seorang tabiinyah yang mulia, ibunya Habibah bin Kharijah al-Anshariyyah melahirkannya saat setelah Abu Bakar ash-Shiddiq meninggal dunia. Dan Ummu Kultsum inilah yang dikatakan oleh Abu Bakar kepada Aisyah Radhiyallahu `Anha putrinya saat akan wafat, “Sesunggunya mereka berdua adalah dua saudaramu laki-laki dan dua saudaramu perempuan.”

Aisyah Radhiyallahu `Anha menimpali, “Ini Asma yang sudah saya mengerti, lalu mana yang lainnya? Abu Bakar menjawab, “adalah yang ada di kandungan binti Kharijah – yakni istrinya Habibah yang tengah hamil- padahal menurut persepsi saya sebelumnya ia adalah seorang budak wanita, namun yang kenyataannya adalah seperti yang dikatakan oleh Abu Bakar Radhiyallahu `Anhu dan Ummu Kultsum lahir setelah wafarnya.

Bibi Aisyah binti Thalhah ini adalah Aisyah Ummul Mukminin, juga bibi yang lainnya adalah Dzatun-Nithaaqain Asma binti Abu Bakar .

Inilah keluarga yang suci mulia yang menjadi tempat tumbuh dan berkembangnya Aisyah binti Thalhah bin Ubaidillah, yang mendapat sebutan Ummu Imran at-Taimi al-Qurasyi.


Pernikahannya

Aisyah binti Thalhah menikah dengan saudara sepupu (anak paman dari ibu)nya, ia menikahinya atas saran dari Aisyah Ummul Mukminin, sedangkan nama suaminya adalah Abdullah bin Abdur-Rahman bin Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu `Anhu ia mempunyai anak laki-laki darinya bernama Imran, dan dengan anaknya itu ia mendapatkan sebutan Ummu Imran, lalu Abdur-Rahman, Abu Bakar, Thalhah dan Nafisah.

Anaknya yang bernama Thalhah bin Abdullah termasuk orang yang sangat dermawan dan tokoh terhormat dari kalangan Quraisy. Adalah al-Huzain ad-Daili, seorang penyair yang menuturkan sifat dermawan dan nasabnya:
Apabila engkau berikan aku
seekor unta besar yang mudah bagimu, wahai Tahlhah!
Dermamu kepadaku tidak hanya sekali dua kali,
Akan tetapi berkali-kali
Ayahmu dahulu seorang yang membenarkan Rasul Pilihan
Selalu mengikuti beliau kemanapun berjalan
Dan ibumu, wanita cemerlang dari suku Taimi
Jika orang dihubungkan nasabnya pada suku tersebut,
Maka adalah kebanggaan baginya.


Perawi yang Cerdas

Aisyah binti Thalhah orang yang paling mirip dengan bibinya, Aisyah Ummul Mukminin, orang yang paling dicintainya, orang yang paling berhasil dibimbing oleh Aisyah Radhiyallahu `Anha dalam hal ilmu dan adabnya, sebab ia telah berguru kepadanya, begitu juga meriwayatkan darinya, dan hadits-hadits yang diriwayatkannya di-Takhrij-kan dalam kelompok hadits-hadits yang shahih.

Ia mengutip ilmu, adab dan ilmu-ilmu seputarnya dari bibinya, sehingga menjadi tabiin perempuan terbaik yang menjadi perawi hadits.

Dan darinya banyak tokoh-tokoh tabiiin dan ulamanya yang meriwayatkan hadits, diantaranya adalah: anaknya sendiri, Thalhah bin Abdullah, keponakannya –Thalhah bin Yahya, keponakannya yang lain –Muawiyah bin Ishaq, juga Minhal bin Amr, Fudhail bin Amr al-Faqimi, Hubaib bin Abu Amrah, juga Atha’ bin Abi Rabah dan Umar bin Said juga yang lain-lainnya.


Beberapa Hadits dari Riwayatnya

Termasuk riwayat hadits dari Aisyah binti Thalhah, sebagaimana hadits yang dikeluarkan (dari kumpulan besar hadits) oleh al-Hafizh Ibnu `Asakir beserta sanadnya dari Aisyah Ummul Mukminin, berkata, “saya bertanya: Wahai Rasulullah, sesungguhnya seorang anak kecil dari golongan Anshar yang belum baligh, apakah menjadi seperti burung pipit surga?” Maka Rasulullah Shalallahu `alaihi wa Sallam, menjawab, “atau selain dari itu semua wahai Aisyah. Sesungguhnya Allah menciptakan surga dan menciptakan penghuninya, juga mencipatkan neraka, dan menciptakan penghuninya. Sedangkan mereka berada dalam keturunan bapak-bapak mereka.”

Riwayat haditsnya yang lain, hadits yang dikeluarkan oleh Abu Dawud dengan sanadnya dari al-Minhal bin Amr dari Aisyah bin Thalhah dari Ummul-Mukminin Aisyah Radhiyallahu `Anha berkata, “saya tidak melihat orang yang paling banyak kemiripan tingkah, sikap dan kebaikan hati seperti Rasulullah Shalallahu `alaihi wa Sallam, melebihi Fathimah ra. dia ketika datang menemui Rasulullah Shalallahu `alaihi wa Sallam, maka Beliau meraih tangannya lalu menciumnya dan mendudukkannya di tempat duduknya, dan ketika Beliau datang menemuinya maka ia berdiri menyambutnya, lalu meraih tangannya dan menciumnya kemudian mempersilahkan duduk di tempat duduknya.

Termasuk riwayat haditsnya yang lain adalah seperti yang diriwayatkan dalam kumpulan hadits-hadits shahih yang dikeluarkan oleh Imam Muslim dengan sanadnya dari Thalhah bin Yahya bin Thalhah dari Aisyah binti Thalhah danri Aisyah Ummul Mukminin, berkata, “Rasulullah Shalallahu `alaihi wa Sallam, bersabda, “Orang tercepat dari kalian

yang menyusulku adalah orang dari kalian yang terpanjang tangannya.”

Maka mereka menjulur-julurkan tangannya untuk mengetahui siapakah gerangan yang terpanjang tangannya dari mereka, dan ternyata yang terpanjang tanganya adalah Zainab binti Jahsy istri Nabi Shalallahu `alaihi wa Sallam, sebab ia selalu bekerja dengan tangannya dan banyak memberi shadaqah..


Aisyah Dalam Pandangan Ulama

Tidak diragukan lagi, bahwa seorang wanita tabiin seperti Aisyah binti Thalhah yang tumbuh dalam keluarga besar Rasulullah Shalallahu `alaihi wa Sallam, jika kemudian menjadi tokoh wanita dalam ilmu, kedudukan dan kejujurannya. Karenanya banyak ulama dan tokoh-tokoh besar yang mengenal riwayat hadits dan memiliki pengalaman dengan ilmu-ilmunya memberikan pujian dan apresiasi yang positif. Cukup baginya sebagai kebanggaan tatkala seorang Imam Jarh dan Ta’dil, tokoh ilmu hadits dan imam bagi para ahli-hadits di jamannya Yahya bin Ma’yan memasukkannya dalam golongan perawi yang tsiqat dan hadits-haditsnya dijadikan sebagai hujjah (sandaran argumentasi hukum), dia mengatakan, “perawi yang tsiqat dari kalangan wanita adalah Aisyah binti Thalhah, ia seorang rawi yang tsiqah dan haditsnya sebagai hujjah.”

Sementara itu, Abu Zar’ah ad-Dimasyqi memberikan pujian, dan menuturkan keutamaan dan kedudukannya dengan mengatakan, “Aisyah binti Thalhah adalah seorang wanita mulia yang meriwayatkan hadits dari Aisyah Ummul-Mukminin, dan banyak orang yang meriwayatkan hadits darinya karena kedudukan dan adabnya.”

Dalam komentar pujian terhadapnya, al-`Ajli mengatakan, “Aisyah binti Thalhah seorang wanita yang berpikiran positif, seorang tabiin dan tsiqah.”

Begitu juga dalam kitab `ats-Tsiqat’ Ibnu Hibban memasukkan namanya dan memberikan pujian kepadanya..

Dan dalam kitab al-Bidayah wa an-Nihayah, Imam Ibnu Katsir mengutip pernyataan dari gurunya al-Mazziy, “Tidak ada dalam golongan perempuan yang lebih pandai dari murid-murid perempuan dari Aisyah Ummul-Mukminin, mereka adalah Amrah binti Abdur-Rahman, Hafshah binti Sirin dan Aisyah binti Thalhah.”


Kehormatan Bagi Aisyah

Aisyah binti Thalhah menghabiskan banyak waktunya untuk berdzikir, lidahnya tidak lelah untuk melantunkan tasbih di pagi dan sore hari, menjadikan jiwanya bersih dengan kejernihan yang menjadikannya istimewa diantara anak-anak perempuan Thalhah, ini dilakukan dalam rangka menunaikan suatu hal penting yang dilihatnya dalam mimpi.

Banyak literatur menyebutkan dengan merangkum semuanya, bahwasanya Aisyah melihat ayahnya dalam mimpi setelah tigapuluh sekian tahun wafatnya sang ayah, dalam mimpinya sang ayah berkata kepadanya,
“Wahai putriku, keluarkanlah aku dari air yang menyakitiku ini, sesungguhnya air rembesan ini sangat menggangguku.”

maka saat terjaga dari tidurnya, ia mengumpulkan teman-temannya kemudian bergegas menaiki kudanya bersama letihnya menuju kuburan sang ayah lalu menggalinya, lalu ia mendapatinya seperti sediakala saat dikuburkan, tidak berubah sehelai rambutpun, sisi badannya berona hijau seperti bilur air yang mengalir padanya. Pembongkaran itu dipimpin oleh Abdur-Tahman bin Salamah al-Taimi, kemudian ia melipatkan beberapa lipat kain padanya. Sementara Aisyah binti Thalhah membeli sebidang tanah dari Abu Bakarah di Bashrah lalu menguburkan ayahnya disana, dan kemudian membangun masjid di sampingnya. Sementara ada seorang wanita Bashrah datang membawa botol berisi air kembang lalu menuangkannya di atas kubur itu hingga habis. Dan wanita-wanita yang lainnya melakukan hal ini hingga tanah kubur itu menjadi berbau harum dan wangi. Kuburan itu sangat terkenal di sana.


Bersama Mushab Bin Az Zubair

Setelah suaminya Abdullah bin Abdur-Rahman bin Abu Bakar ash-Shiddiq meninggal dunia, ia dinikahi oleh pemimpin Iraq saat itu, Mush’ab bin az-Zubair al-Qurasyi al-Asadi, ia seorang ksatria pemberani, tampan dan menarik, tentang sifat-sifatnya seperti yang digambarkan oleh Ubaidillah bin Qays ar-Ruqayyat:
Sungguh, Mush’ab adalah macan dari Allah,
Tampak dari wajahnya ketegasan
Singgasananya adalah singgasana kemuliaan,
Tanpa kemewahan dan keangkuhan
Senantiasa bertaqwa kepada Allah dalam segala urusan
Sungguh beruntung orang yang mencita-citakan ketaqwaan.
Sebelumnya Mush’ab mengidamkan dapat menikahi Aisyah binti Thalhah, perempuan cerdas nan cantik dari Quraisy ini, untuk hal ini ada kisahnya yang lucu namun juga mengharukan, dan sekaligus menunjukkan cita-cita yang tinggi.

Dalam sebuah kelompok pertemuan di pelataran Ka’bah, terkumpul Abdullah, Mush’ab, Urwah bin az-Zubair serta Abdullah bin Umar, dan menurut sebuah versi riwayat Abdul-Malik bin Marwan. Mush’ab berkata kepada mereka, “berharaplah kalian!!.” maka mereka mengatakan, “Mulailah kamu dahulu!.”

Maka ia mengatakan, “Kekuasaan di Iraq dan pernikahan dengan Sukainah binti al-Husain serta Aisyah binti Thalhah bin Ubaidillah.” Maka ia mendapatkan semuanya dan ia memberikan maskwin pada masing-masing keduanya sebanyak 500.000 dirham serta menyiapkan semua pakaian dan perhiasan seperti lainnya.

Sedangkan Urwah bin az-Zubair berharap ilmu fiqih dan dapat mengahal hadits, maka ia mendapatkan harapannya itu.

Sementara Abdul-Malik bin Marwan mengharap kepemimpin khalifah, dan ia mendapatkannya. Lalu Abdullah bin Umar mengharap surga, dan semoga Allah mengampuninya.

Mush’ab benar menikahi Aisyah, seorang wanita tercantik dan terdepan di jamannya, sampai wanita-wanita cantik di masanya mengakui kecantikannya dan memberikan komentar manis seputar dirinya. Ini adalah pengakuan besar bagi Aisyah. Sebab hanya wanita yang lebih memahami wanita dan lebih jeli dengan rahasia-rahasia kecantikan yang tersembunyi daripada laki-laki.


Beberapa Cerita Lucu

Dari beberapa cerita tentang Aisyah ini, terkesan bahwa ia agak bersikap keras dalam batasan tertentu terhadap suaminya, Mush’ab. Terkadang ia bertengkar dengannya. Dan pada sisi ini terdapat cerita dan peristiwa yang lucu.

Diceritakan bahwa suatu ketika ia marah kepada Mush’ab, padahal ia sangat dicintainya. Maka Mush’ab mengeluhkan hal ini kepada Asy’ab. Maka ia berkata, “Apa yang akan aku dapatkan jika ia mau kembali?.”

Mush’ab menjawab, “Terserah engkau!.”

Asy’ab berkata, “sepuluh ribu dirham.”

Mush’ab menjawab, “Setuju.”

Maka Asy’ab bergegas pergi menemui Aisyah, lalu berkata, “Aku bertaruh untuk menjadi penjaminmu!, ini sebuah kesempatan yang terhampar untukku sekiranya engkau memenuhi hakku dan terima kasihku untukmu.”

Aisyah bertanya, “Apa keperluanmu wahai Asy’ab.” Ia menjawab, “baginda (gubernur) menjanjikanku uang sepuluh ribu dirham seandainya engkau mau kembali kepadanya.” Aisyah menjawab, “Sialan, dia tidak akan mendapatkan diriku dengan upaya seperti ini.”

Asy’ab terus membujuknya, “sungguh saya mohon, relakanlah dan kembalilah padanya sampai ia memberiku uang itu, kemudian kembalilah pada keburukan akhlak yang telag engkau biasakan ini!.”

Maka Aisyah tertawa dan kembali kepada Mush’ab.

Pada cerita yang lain tentang sisi kepribadiannya, ia termasuk orang yang sering membanggakan diri, banyak bersikap manja pada suaminya, sikap ini terkadang berlanjut hingga sampai pada batas yang berlebihan. Suatu ketika Mush’ab datang kepadanya saat ia sedang tidur di pagi hari. Ia membawakan butiran-butiran berlian yang nilainya mencapai duapuluh ribu dinar, ia menyebarkan berlian-berlian itu di pangkuan istrinya. Maka Aisyah berkata kepada suaminya, “Tidurku ini lebih aku senangi daripada berlian-berlian ini”. Suatu ketika Mush’ab mengeluhkan seringnya sang istri membanggakan diri kepada Abdullah bin Abi Farwah, sekeretarisnya.

Barangkali ia menemukan jalan keluar dan solusi bagi sikap berlebihan Aisyah dalam kemanjaan dan ke-ngambek-annya.

Ia berkata kepadanya, “Apakah engkau mengijinkanku untuk membuat alibi?.”

Mush’ab menjawab, “Ya, lakukan yang engkau inginkan, sebab ia adalah kemewahan dunia terindah yang aku dapatkan.” Maka Ibnu Abi Farwah mendatangi Aisyah malam hari, lalu ia meminta ijin masuk. Aisyah berkata, “Waktu selarut ini?”

Ia menjawab, “Ya.” maka Aisyah terkejut karena takut sebab ia datang bersama dua orang yang besar dan hitam kulitnya.

Pembantu Aisyah bertanya, “Apa keperluanmu?”

Ia menjawab, “petaka bagi tuamu Aisyah.”

Ia bertanya, “Ada apa dengannya?”

Ia menjawab, “Si penjahat yang gemar membantai orang ini menyuruhku untuk membuat sumur, lalu aku kuburkan Aisyah di dalamnya hidup-hidup, padahal saya sudah berusaha untuk menghindar dari tugas ini lalu ia mengancam akan membunuhku.”

Ia berkata, “lepaskan aku agar dapat menemuinya.”

Ia menjawab dengan suara keras dan tegas, “Tidak mungkin, engkau tidak ada kesempatan lagi.” Kemudian ia berkata kepada kedua orang hitam itu dengan nada yang sangat tegas, “Buatlah galian!”

Maka Aisyah langsung menangis, ia melihat kesungguhan pada sekretaris suaminya ini, lalu ia berkata, “Wahai Ibnu Abi Farwah, engkau sungguh akan membunuhku?”

Ia menjawab, “Tidak ada pilihan lain, meski saya yakin Allah akan membalasnya sesudah kematianmu, akan tetapi sungguh ia telah marah dengan semarah-marahnya.”

Aisyah berkata, “perlakuan diriku yang manakah yang membuatnya marah?”

Ia menjawab, “Penolakanmu terhadapnya, ia mengira engkau telah benci padanya, dan engkau telah mulai berpaling pada laki-laki selain dirinya, sehingga ia sekarang menjadi gila.”

Aisyah berkata, “Saya berjanji kepada Allah untuk tidak mengulanginya lagi.”

Ia menjawab, “Saya khawatir ia akan membunuhku.”

Maka Aisyah beserta pembantu-pembantunya menangis, Ibnu Abi Farwah melihat hal ini dan merasakan tuan putrinya ini mulai tenang, ia berkata kepadanya, “Saya berempati dengan keadaanmu sekarang, lalu apa yang harus saya katakan kepada Mush’ab?.” ia menjawab, “sebuah jaminan dariku bahwasanya aku tidak akan mengulangi perselisihan dengannya lagi selamanya.”

Ibnu Abi Farwah berkata, “Berikanlah bukti-bukti tentang hal itu kepadaku!.” maka ia-pun memberikannya, lalu ia berkata kepada kedua orang yang hitam itu, “kembalilah ke asal kamu sekarang.”

Kemudian Ibnu Abi Farwah mendatangi Mush’ab untuk memberitahukan semua yang terjadi, maka Mush’ab berkata kepadanya, “Mintalah komitmen darinya dengan bersumpah.” Ia-pun bergegas pergi menemui Aisyah, “Sesungguhnya Mush’ab sudah mulai melunak sedikit, bersumpahlah kepadaku kiranya engkau tidak akan mengulanginya.”

Maka Aisyah bersumpah dan berkomitmen padanya, serta berbuat baik kepada Mush’ab berkat pelajaran langka dan luar-biasa itu.


Setelah Mushab

Setelah meninggalnya Mush’ab, Aisyah menikah lagi dengan Umar bin Ubaidillah bin Ma’mar at-Taimi, ia tinggal bersamanya selama delapan tahun, dan suaminya ini meninggal tahun 82 H, lalu ia menangis dengan berdiri. Menurut kebiasaan bangsa Arab, apabila seorang wanita menangisi suaminya yang mati dengan berdiri, maka mereka mengetahui bahwa sang istri tidak akan menikah lagi sesudahnya.

Dan setelah menjanda, ia tinggal di Makkah selama setahun, di Madinah selama setahun, lalu ia keluar untuk keperluan bisnisnya ke Thaif sekaligus mengurus kehidupannya sendiri. Pada saat kehidupan di Thaif ini banyak sekali cerita bersama para penyair, ini menunjukkan kejelian pemahamannya serta kebaikan ide dan semangat bersastra.


Cerita Tentang Kedudukan dan Kebanggaannya

Aisyah binti Thalhah hidup dalam gelimang kekayaan, ia sangat suka melihat jejak kenikmatan yang Allah berikan kepadanya. Diceritakan saat ia hendak menunaikan ibadah haji ia membawa barang-barang mewah yang ia perlukan, semua kebutuhannya itu diangkut oleh enam puluh kuda raja lengkap dengan tandu diatasnya serta muatannya. Urwah bin az-Zubair –satu dari ahli-fiqih Tabiin yang berjumlah tujuh mengatakan,
Hidup, wahai pemilik enampuluh kuda, Apakah setiap tahun seperti ini engkau menunaikan ibadah haji?
Sifat-sifat ini menjadikan Aisyah bangga pada lainnya dengan nikmat yang telah Allah berikan kepadanya, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Disebutkan bahwa ia berhaji bersama madu-nya Sukainah binti al-Husain, dan Aisyah lebih baik dalam penampilan dan perbekalan, lalu penuntun kudanya menirukan perkataan Urwah bin az- Zubair tadi,Hidup, wahai pemilik enampuluh kuda, Apakah setiap tahun seperti ini engkau menunaikan ibadah haji?
Ungkapan ini terdengar kurang menyenangkan di hati Sukainah, maka penuntun kudanya berkata,
Hidup, inilah madumu yang meragukanmu, Seandainya bukan karena kakeknya, niscaya kakekmu tidak akan mendapatkan Hidayah,
Maka Aisyah memerintahkan penuntun kudanya untuk diam, maka ia-pun diam sebagai bentuk penghormatan kepada Sukainah.

Tampak pada cerita-cerita tentang Aisyah bahwa superioritas dan sikap membanggakan diri menjadi karakternya, pernah ia membanggakan ibunya, seperti yang diceritakan kembali oleh Ishaq bin Thalhah –saudara seayah- berkata,
“Suatu ketika saya berkunjung kepada Ummul-mukminin Aisyah Radhiyallahu `Anha dan sana ada Aisyah binti Thalhah, ia berkata kepada ibunya –Ummu Kultsum binti Abu Bakar, “Saya lebih baik darimu, dan ayahku lebih baik dari ayahmu.”

Sang ibu lalu terheran dengannya dan berkata, “engkau lebih baik dariku?” lalu Aisyah Ummul-Mukminin berkata, “Tidakkah sebaiknya aku menjadi penengah untuk kalian berdua?” mereka berdua menjawab, “Ya.”

Aisyah –Ummul-mukminin berkata, “Suatu ketika Abu Bakar datang menemui Rasulullah Shalallahu `alaihi wa Sallam, lalu beliau bersabda, “engkau wahai Abu Bakar adalah `Atiiqullah (orang yang Allah halangi) dari neraka.” maka siapa gerangan setelah itu yang mendapat julukan `Atiiq.

Kemudian Thalah bin Ubaidillah masuk, lalu ia berkata,
“Engkau wahai Thalhah, adalah termasuk orang yang meneruskan perjalanannya.”


Pengetahuan dan Ilmunya

Sedikit sekali kita temukan wanita yang diberikan limpahan harta-kekayaan, dan diberikan kecantikan yang menawan masih mempunyai perhatian yang besar pada ilmu dan pengetahuan, selain Aisyah binti Thalhah dan wanita-wanita yang berada dalam tingkatannya yang sangat berbeda dengan kebanyakan wanita yang sering sibuk dengan dandanan, perhiasan dan aksesoris dari segala sesuatu.

Aisyah adalah seorang yang cerdas dan pandai, juga berani mengungkapkan ide, memiliki keluasan pengetahuan yang beraneka-ragam. Termasuk cerita yang memberikan kesaksian tentang ilmu dan keberaniannya dalam mengatakan kebenaran, sebagaimana yang diriwayatkan bahwasanya ia pergi dalam rombongan Hisyam bin Abdul-Malik menuju ke Damascus. Hisyam berkata kepadanya,
“Apa yang membuatmu pergi wahai Aisyah??.”

ia menjawab, “karena langit menahan hujannya, dan sang raja menghalangi kebenaran.”

Hisyam berkata, “saya akan mengubungkan kerabatmu, dan saya mengetahui hak-hakmu.”

Kemudian ia mengirimkan utusan kepada pembesar-pembesar Bani Umayyah dan berpesan, “Bahwasanya Aisyah binti Thalhah al-Taimiyyah berada padaku, maka pergilah secara diam-diam ke sini malam hari.” dan ternyat benar mereka datang, maka tidak ada sesuatu yang mereka perbincangkan tentang cerita-cerita dan syair Arab serta peristiwa yang terjadi kecuali Aisyah ikut dalam perbincangan itu bersama mereka, dan tidak ada bintang kemintang dan rasi yang muncul kecuali ia dapat menamainya. Lalu Hisyam berkata kepadanya dengan kagum, “Adapun yang pertama –tentang cerota dan syair Arab saya tidak mengingkarinya; namin tentang perbintangan, dari manakah engkau mendapatkannya?.”

Ia menjawab, “Saya belajar dari bibiku Aisyah Ummul Mukminin,.” maka Hisyam memberikan hadiah kepadanya sebanyak 100.000 dirham dan mengembalikan Aisyah ke Madinah secara baik, mulia dan terhormat.

Aisyah senantiasa menjadi wanita langka di jamannya, dengan kisah yang penuh kebaikan dan keindahan, langkah dan etika, kehormatan dan keilmuan hingga wafat pada tahun 101 H.

Semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepada Aisyah binti Thalhah, dan memejamkan kedua-matanya dengan penuh kenikmatan.



Sumber :
- Dari kitab Tarikh Dimasyq hal.209 dan 210.
- Tarikh Dimasyq, hal.207. Nawadir al-Makhthuthat jilid 1 hal 70, dan Taqrib at-Tahdzib jilid 2 hal. 606.
- Lihat Jamharatu Ansabi al-`Arab, Ibnu Hazm jilid 1 hal 137.
- al-Qashshab, Abu Abdullah al-Hammani, budak mereka yang berasal dari Kufah, seorang Tabiiy, ia meriwayatkan hadits dari Mujahid, Said bin Jubair, Aisyah binti Thalhah, Ummu ad-Darda, dan juga banyak tokoh-tokoh Tabiin yang meriwayatkan hadits darinya. Ia dikenal tsiqah, sedikit riwayatnya, sekitar 15 hadits. Menurut pendapat Ibnu Ma’yandan an-Nasai, “ia orang yang tsiqah”, sedangkan menurut Imam Ahmad, “Ia adalah seorang Syaikh yang tsiqah” wafat pada tahun 142 H. di ringkas dari Tahdzib at-Tahdzib jilid 2 hal 188, dan Taqrib at-Tahdzib jilid 1 hal 150.

- Dari kitab Tarikh Dimasyq hal 207.
- Dikeluarkan oleh Abu Dawud nomor hadits 5217 dari bab Adab, dan diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dengan nomor hadits 3872 dalam bab Manaqib, Imam al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak 3/152 dia mengatakan, “ini adalah hadits yang shahih menurut syarat hadits shahih Imam Bukhari dan Imam Muslim, dan keduanya tidak mengeluarkan hadits ini.”

- Dari kitab Shahih Muslim juz 7 hal 144 bab; keutamaan Zainab Ummul-Mukminin. Dan lihat juga buku kami Nisa Mubasysyarat bil-Jannah juz 1 hal 272.
- Dikutip dari kitab Tarikh Dimasy hal 207-210, dan Tahdzib at-Tahdzib 12/437.
- Lihat; al-Thabaqat al-Kubra 3/223-224, al-Maarif hal.229, Siyaru A’lam an-Nubala 1/40, al-`Iqdu al-Farid 4/323, lihat biografi Thalhah dalam kitab al-Isti’ab dan Usud al-Ghabah.

- Lihat kisah dengan redaksi yang hampir sama pada kitab al-Hilyah 2/176, Wafayat al-A’yan 3/29 dan 258, Uyun al-Akhbar 1/258, al-Bidayah wa al-Nihayah 8/322-323, Siyaru A’lam al-Nubala 4/141 dan literatur lainnya.

- bin Jubair al-Madani. Sosok yang menjadi icon dalam sikap tamak, diceritakan dari Ikrimah dan Aban dari Utsman dan Salim bin Abdullah. Wafat tahun 154 H. sumber: Wafayat al-A’yan 1/37.

- Dari kitab Nawadir al-Makhthuthat 1/77.
- Dikutip dari Nawadir al-Makhthuthat 1/80 dengan ringkasannya.
- Istilah Ahli Fiqih Tujuh muncul di tengah-tengah penduduk Madinah, yang mereka maksudkan adalah para ahli-fiqih yang menonjol di Madinah dari generasi Tabiin. Tampaknya mereka ini sering berkumpul bermusyawarah untuk menghasilkan satu pendapat yang merupakan kesimpulan bersama dari permasahan-permsahan fiqih yang mereka hadapi, mereka ini membawa semangat dari para shahabat Rasulullah, menerangi sisa abad dan memulai abad kedua Hijriyah,mereka menjadi tempat dan sistematika pembelajaran fiqih Madinah yang berdasar pada fatwa yang dikemukakan oleh para shahabat pendahulu, mereka semua adalah; Said bin al-Musayyib, Urwah bin az-Zubair, Abu Bakr bin Abdur-Rahman bin al-Harits, al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakr, Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah bin Mas’ud, Kharijah bin Zaid bin Tsabit dan Sulaiman bin Yasar.

- Dari kitab Tarikh Dimsyq hal.210.
- Dari kitab A’lam an-Nisa 3/154.